Aksi Kritis Aspiratif : Manifestasi Politik dan demokrasi

Apa sebenarnya Aksi atau demonstrasi? Demonstrasi adalah tindakan untuk menyampaikan penolakan, kritik, ketidakberpihakan, mengajari hal-hal yang dianggap sebuah penyimpangan. Maka dalam hal ini, sebenarnya secara bahasa demonstrasi tidak sesempit, melakukan long-march, berteriak-teriak, membakar ban, aksi teatrikal, merusak pagar, atau tindakan-tindakan yang selama ini melekat pada kata demonstrasi. Seharusnya demonstrasi juga “mendemonstrasikan” apa yang seharusnya dilakukan oleh pihak yang menjadi objek protes. Sedikit bukti, bahwa dalam pengertiannya saja telah muncul, meminjam terminologi Jaya Suprana, kelirumologi. Bagaimana dengan implementasinya?

Aksi damai, Turun ke jalan, jahit mulut, mogok makan dan lain sebagainya, itulah bentuk aksi yang dilakukan kaum aktivis pembela kepentingan  suatu golongan. Aksi yang dilakukan merupakan perwujudan kebebasan menyatakan pendapat , dalam konteks ini  di atur dalam konstitusi kita dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28.

Otomatis hal ini menjadi senjata ampuh kalangan tertentu untuk menyampaikan aspirasi mereka secara langsung ke pemerintah. Karena Negara kita menganut demokrasi. Maka setiap orang berhak untuk mengaspirasikan kehendaknya.

Namun belakangan ini, aksi atau demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa belakangan ini kurang mendapatkan simpati dari masyarakat. Seperti ada yang mengatur semua ini dengan memanfaatkan emosi para mahasiswa dan tampaknya usaha ini memang membuahkan hasil yakni publik tidak begitu bersimpati dengan gerakan mahasiswa. Sungguh berbeda dengan ketika gerakan mahasiswa yang terjadi di tahun 1998 yang pada puncaknya dapat menjatuhkan Suharto dari pucuk pimpinan negeri ini setelah tidak kurang dari 32 tahun berkuasa.

Simpati publik mengalir dengan deras ketika itu. Kejatuhan Soeharto pun sudah dapat diprediksi dengan tewasnya 4 mahasiswa dalam peristiwa 12 Mei 1998, mengingat hal yang sama terjadi ketika seorang mahasiswa tewas dalam demonstrasi di tahun 1966. Sepertinya sejarah selalu berulang, perjuangan sepertinya selalu punya tumbalnya sendiri. Kerusuhan di berbagai kota yang terjadi menyusul tewasnya para mahasiswa itu tampak seperti sudah diskenariokan, di mana saat itu tidak terlihat satu pun polisi maupun tentara di jalan-jalan. Masih terbayang dalam ingatan manakala kerusuhan yang terjadi di tanggal 14 Mei 1998, yang hampir semua titik-titik kerusuhan saat itu diawali dengan pembakaran ban. Entah dari mana datangnya, sekonyong-konyong banyak sekali terdapat ban-ban kendaraan di jalanan yang kemudian di bakar, yang tidak berselang lama penjarahan mau pun pembakaran kendaraan dan gedung terjadi di sana. Siapakah yang memasok ban? Siapakah yang memulai penjarahan dan pembakaran? Menjadi pertanyaan klasik yang belum terjawab hingga hari ini.

Tragedi Tiananmen di Cina, Revolusi Prancis, Revolusi Amerika Serikat, perjuangan-perjuangan kemerdekaan di seantero dunia, Peristiwa People Power di Filipina, revolusi di Rusia, telah menjadi contoh nyata bagi kita bahwa demonstrasi dan aksi rakyat telah menjadi bagian dari sejarah penting bagi negara maju dan berkembang. Semua menjadi bukti bahwa demonstrasi adalah proses yang wajar dan bahkan kontributif bagi perkembangan dan perbaikan suatu bangsa. Akan tetapi ada benang merah yang dapat ditarik dari kejadian-kejadian demonstrasi dan mass movement di atas.

Tampaknya sejarah terulang lagi tetapi dengan adanya degradasi nilai terhadap aksi mahasiswa yang dipandang sebagai perilaku yang wajar. Tapi begitulah kenyataannya.

Nampaknya gerakan mahasiswa harus lebih elegan lagi dalam menyampaikan aspirasi agar tidak terprovokasi dengan  pihak yang tidak berkepentingan. Untuk mencari keuntungan sendiri.

Gerakan mahasiswa di tahun 1974 pupus akibat provokasi semacam ini yang kita kenal sebagai peristiwa Malari. Berbeda dengan di tahun 1998 gerakan mahasiswa cukup solid dan tidak mudah terprovokasi pada saat peristiwa 14-15 Mei terjadi, sehingga mereka tidak dapat dijadikan kambing hitam oleh penguasa saat itu.

Idealisme gerakan mahasiswa adalah harapan publik dengan tingkat intelektualitasnya sebagai kawah candradimuka untuk sebuah  perjuangan yang melihat permasalahan negeri ini dan secara independen menyuarakan perbaikan kepada pemerintah demi sebuah perubahan yang besar untuk kemakmuran negeri yang kita cintai ini. Secara overall aksi akhir-akhir ini dilakukan damai. Hidup Mahasiswa Indonesia !

Iklan