Updates from future leader Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • future leader 8:08 AM on 22 October 2010 Permalink | Balas  

    BANGKITLAH GERAKAN MAHASISWA!
    (Refleksi Gerakan Mahasiswa Islam)

    Oleh: Eko Prasetyo

    Diantara tanda kiamat kecil adalah banyaknya kebohongan
    (Nabi saw)

    Biarlah mereka yang ingin dapat mobil, mendapatkannya
    Biarlah mereka yang ingin dapat rumah, mengambilnya
    Dan datanglah kau manusia-manusia
    Yang dahulu menolak, karena takut ataupun ragu…….
    Tempat kita, petualang-petualang masa depan dan pemberontak pemberontak rakyat
    Di sana…..
    Di tengah rakyat, membina kapal-kapal baru untuk tempuh gelombang baru
    Ayo, mari kita tinggalkan kapal ini
    Biarlah mereka yang ingin pangkat menjabatnya
    Biarlah mereka yang ingin mobil mendapatnya
    Biarlah yang ingin rumah mengambilnya
    Ayo,
    Laut masih luas, dan bagi pemberontak tak ada tempat di kapal ini
    (Soe Hok Gie, kepada Pejuang-Pejuang Lama)

    Seperti sebuah terang zaman puisi ini menyimpan pesan yang jauh. Perjuangan mahasiswa akan berhiaskan keteguhan dan pengkhianatan. Teguh untuk mereka yang masih menyimpan cita-cita mulia dan hidup dengan penghormatan pada nilai-nilai kemanusiaan. Karenanya dalam gejolak gerakan mahasiswa akan selalu tampil resiko dan konsekuensi. Resiko tak selalu berujud penjara dan penindasan. Konsekuensi tak selalu berujung pada penangkapan atau penculikan. Sebab kekuasaan tak selamanya bermuka jahanam dan terbit hanya dengan senapan. Kekuasaan nyatanya menyimpan pesonanya sendiri: pengaruh, kemakmuran dan pangkat. Hingga dalam suasana yang diliputi oleh feodalisme dan ancaman pengangguran: kekuasaan membawa ‘tiket masuk’ yang khusus untuk mereka yang menyebut diri sebagai ‘aktivis’. Sosok yang selalu menyandang kesangsian, hidup dengan kesederhanaan dan berada di balik kata-kata besar. Sorot kekuasaan kemudian tampil dalam rias pesona yang mengaggumkan: perjuangan memerlukan kemenangan ‘antara’ dan taktik bukan sebuah keyakinan buta. Tampil perlahan-lahan dan lembut sebuah argumentasi yang dangkal tapi menggiurkan: jika kebebasan politik adalah tujuan maka suasana sekarang ini adalah tampilan ideal ‘perubahan’. Tentu yang ideal memerlukan kerja para pendukung dan tak selamanya gerakan mahasiswa hanya memusatkan diri pada lambang ‘gerakan moral’: dibutuhkan peran yang lebih ‘fungsional’ dan itu bisa dilakukan dengan ‘memperantarai’ gagasan-gagasan perubahan yang sudah disediakan. Terjebak dalam adagium itulah yang kemudian mendorong aktivis gerakan berubah peran dari ‘pelopor’ menjadi ‘makelar’ perubahan. Antonio Gramsci menyinggung sengit tragedi ini:

    ….kaum proletariat tak sanggup memanifestasikan diri dalam bentuk apa pun selain menjadi borjuis rendahan baru yang tak jelas posisinya dan tak memiliki tujuan historis yang nyata….

    Jika berkaca pada sejarah gerakan maka gerak perselingkuhan gerakan mahasiswa dengan barisan teknokrat dan angkatan bersenjata terpupuk sejak lama. Mula-mula pendidikan tinggi mengawali ini dengan ‘melumpuhkan’ tradisi berfikir kritis dan menanamkan pola ‘penyeragaman’ dalam lingkungan universitas. Sulit diingkari bahwa kampus-bahkan saat ini-telah menjadi bagian dari industri tenaga kerja dan ‘proyek’ pencangkokan ideologi dominan. Hujan kritik telah menerpa banyak kampus yang biasanya digugat peranya dalam tiga kerangka besar: rubuhnya tradisi intelektual, menguatnya komersialisasi dan meredupnya peran sebagai kekuatan oposisi. Penjinakan kampus tidak diawali dengan komersialisasi melainkan penempatan kampus sebagai lembaga pendidikan yang mencetak para ‘pegawai’ yang serta merta mempertahankan tradisi ‘loyalitas dan jejaring birokrasi’. Tak jarang kemudian kampus jadi pusat pembenaran segala kebijakan dan hampir semua olah kebijakan publik ‘dimasak dan dikelola’ oleh orang-orang kampus. Istilah yang kemudian kerapkali secara populer dinamai dengan teknokratisme. Maka gerakan mahasiswa muncul dalam ruang yang hampa dukungan dan dijerat oleh mesin kampus yang makin pragmatis. Secara perlahan gerakan mahasiswa mengalami ‘involusi’ dari masa ke masa karena kehilangan ‘arti dan makna’ gerakan. Gerakan tak lebih hanya sebagai tangga untuk naik ke status kelas sosial yang lebih tinggi dan itu selalu disejajarkan dengan kedudukan dan pengaruh di kekuasaan. Makin lama makin tampak bahwa tuntutan perjuangan harus disesuaikan dengan lingkungan kampus-yang kini-makin borjuis dan elitis. Sjahrir mengingatkan dalam bahasa yang lugas akan ‘pengkhianatan’ kaum reformis

    Oleh sebab itu perjuangan reformis dibatasi oleh kemauan kaum borjuis. Kaum reformis akan menghentikan perjuanganya manakala dianggap membahayakan kedudukan dan pengaruh kaum borjuis. Reformisme itu melakukan perjuanganya hanya dalam wilayah yang lebih sesuai dengan kepentingan kaum borjuis. Kaum reformis itu tidak memimpin rakyat banyak maju ke medan perjuangan tetapi justru menahan dan menghambat kemajuan perjuangan rakyat itu sendiri

    Reformisme yang jadi kosakata politik muncul dan diperantarai oleh ‘orang-orang’ kampus. Termasuk di dalamnya gerakan mahasiswa yang memiliki ‘basis massa’ mengambang dan mencuat melalui aksi massa jalananya. Meski kekuasaan kemudian berganti dan demokrasi jadi konsep idola tapi gerakan mahasiswa uniknya seperti ‘kereta’ yang ditinggalkan penumpang. Gerbong aktivisnya kemudian berlompatan kesana-kemari dan mempertahankan apa yang umum dalam isntink diri manusia ‘hidup dan kemapanan’. Reformisme memang kemudian sesuai dengan karakter ‘borjuasi’ yang sedari awal tumbuh dalam lingkungan kampus dan cocok dengan situasi zaman yang kapitalistik. Involusi berangkat dari tesis ini: konteks kehidupan kampus melampaui apa yang menjadi slogan ideal dalam poster-poster jalanan. Gerakan mahasiswa lalu hanya jadi monumen yang dikenang dan diabadikan melalui peristiwa dan korban. Momentum itu dalam istilah Hannah Arendt tidak akan pernah menemukan ‘truth’ karena selalu saja kehilangan makna bagi para pejuangnya sendiri. Disanalah gerakan kemudian terputus mata rantai dengan para aktivis dan pendukungnya. Maka secara perlahan gerakan mahasiswa ‘ter-alinenasi’ oleh gelombang perubahan dan menatap dengan kesunyian semua gejolak yang tampil ke permukaan.
    Didasarkan atas krisis laten itulah maka gerakan mahasiswa perlu mengenali kembali kekuatan historisnya. Bukan dalam posisi sloganistik: agen perubahan atau kekuatan moral: melainkan kembali ke akar tugas keterpelajaran. Identitas ‘terpelajar’ bukan sekedar status intelektual melainkan hasrat yang ‘terus-menerus terilhami oleh keprihatinan atas nasib manusia’. YB Mangunwijaya mengungkapkanya dalam perpaduan antara: kebenaran ilmiah (scientific truth) dengan kegunaan (use) lalu dilambari dengan belas kasih (charity). Kumpulan moralitas ini bukan untuk didiskripsikan semata melainkan menjadi daya gerak pendidikan kader gerakan. Meski tak jarang pendidikan kader itu terstruktur dan berjenjang tapi sulit diingkari kalau model ini mirip dengan sistem ‘kepegawaian’ yang fungsional dan instrumental. Masing-masing tahapanya tidak didasarkan atas persoalan kekinian melainkan warisan yang diturunkan dari angkatan demi angkatan. Melalui keterpeloporan intelektual itu maka persambungan dengan massa bisa dibentuk dan menjadi penyokong utama gerak perubahan. Sjahrir dalam merumuskan ‘peran dan fungsi’ PNI baru menyakini modus ini

    Faktor yang menentukan dalam perjuangan pembebasan nasional tidak terletak pada kelompok intelektual yang kecil itu, melainkan pada massa, dan massa yang sudah bangkit, pada waktunya akan melahirkan pemimpin-pemimpin mereka sendiri…tugas kaum intelektual adalah membangkitkan kekuatan rakyat, menafsirkan, dan memberikan suatu landasan teoritis bagi tindakannya…karenanya dalam perhitungan politik, pemikiran harus konkret, harus berdasarkan situasi yang sebenarnya, harus tegas dan dibatasi

    Pendasaran ini lagi-lagi untuk memastikan ‘arah dan jenjang’ kaderisasi yang kini bergerak amat cair dan menyusut dalam jumlah. Memastikan arah pendidikan pada pendasaran budaya intelektual memerlukan tenaga ekstra: sederet metodologi yang terus menerus mengalami modifikasi, materi yang tersusun secara sistematis dengan tampilan teori-teori alternatif dan kerja-kerja lapangan yang mampu mengembangkan ketrampilan pengorganisiran. Jadi posisi sebagai aktivis bukan deretan kedudukan apalagi aktivitas kesana-kemari tanpa tahu kemana ujungnya: melainkan dedikasi yang tinggi atas kesadaran intelektual yang mengakar pada kebutuhan akan perubahan. Untuk merintis kerja ke arah sana maka gerakan memerlukan daya ikat disiplin dan keterpeloporan para pendukungnya. Dalam desain yang sederhana maka gerakan mahasiswa membutuhkan kembali ikatan klasik dengan: buku, massa dan huru-hara. Buku akan menyajikan menu teoritis untuk melihat dan memberi teropong pada realitas. Sedangkan massa akan berbuah gelombang yang mengharu-biru dalam semangat perubahan dan huru-hara hanya kata untuk memayungi segala bentuk tindakan pembangkangan dan protes atas situasi.
    Tapi tentu ini bukan jawaban matematis yang kebenaranya absolut melainkan sebuah cara pandang ‘sementara’ atas realitas kekinian. Karena sifatnya sangat ‘sementara’ maka proses ini terus-menerus perlu untuk dilakukan refleksi untuk memastikan arah ‘kebenaran’ jalan maupun ‘proses’ untuk memastikan dekat pada tujuan. Sebab kerapkali involusi gerakan terjadi ketika pendidikan kaderisasi kehilangan watak ‘pembaharu’ nya atau tercipta keadaan dimana potensi-potensi kader gerakan dimanfaatkan untuk kepentingan di bawah standar kemampuan terbaiknya. Jika bisa disebut misalnya betapa banyak kader-kader terbaik gerakan kemudian hanya meluncur menjadi ‘tukang dan perkakas’ birokrasi yang sejak semula memang punya kegiatan admisnistratif. Jika tidak malahan menjadi tenaga penggerak dari ‘proyek-proyek demokrasi’ yang bersimbah dana dan punya kecenderungan ‘karikatif’. Tan Malaka sejak semula punya keprihatinan yang dalam atas situasi ini

    Karena itu, kita berhadapan dengan satu krisis revolusioner yang tak mudah dipahami orang luar….Kini kebutuhan bukan pada keberanian semata-mata melainkan terlebih lagi, “pengetahuan revolusioner dan kecakapan mengambil sikap revolusioner”

    Jika dapat disebut maka kebanyakan ‘alumni-alumni’ gerakan mengalami krisis saat harapan atas pekerjaan yang dicita-citakan tak sesuai dengan kenyataan yang terpampang. Karir sebagai pengajar di kampus tak mudah didapat karena ukuran seleksi kerapkali hanya mengacu pada perolehan nilai dan kedekatan dengan patron. Sangat sedikit yang tertarik menjadi pengajar juga dipicu oleh iklim birokrasi yang lebih dominan ketimbang budaya intelektual. Bersamaan dengan itu-pada dekade 90-an-LSM tumbuh menjamur dengan rekruitmen yang longgar dan pendanaan lumayan. Bersambung dengan kegiatan sebagai aktivis, LSM lalu memberikan ruang masa depan baru. Banyak aktivis kemudian memilih jalur ini karena mobilitas dan kultur kerja yang sesuai dengan ritme sebagai aktivis. Meski tak bisa dihindari tuduhan yang dialamatkan sebagai ‘kaki tangan’ donor maupun ‘moderasi’ cita-cita revolusioner. Tapi pilihan karir politik di dalam sistem justru yang paling memikat. Dalam istilah seorang aktivis terjun ke partai politik adalah tangga sebenarnya dari penghayatan kaum pergerakan: dari gerakan moral harus diuji dengan gerakan politik. Walau pilihan-pilihan diatas tidak terbentang diatas peta kenyataan yang normal: tipologi kelas sosial masyarakat yang kian kontradiktif, perkembangan tata kota yang metropolis dan arus persaingan tenaga kerja yang sengit di akar rumput. Hinggap dalam situasi ini adalah: wujud kekuasaan yang dihuni oleh gabungan komplotan sisa rezim lama dan reformis gadungan yang tanpa riwayat perjuangan, produk kebijakan berhamba pada mekanisme pasar dan dipertahankanya tata hukum ‘seremonial tanpa menyisakan kepastian bagi para korban’. Ibaratnya pilihan pekerjaan apapun bagi aktivis berada dalam momen rezim yang mengalami pembusukan dan ketiadaan energi untuk berjuang meraih cita-cita radikal.
    Diatas tantangan rumit, berat dan berliku itulah gerakan mahasiswa mengalami ‘sejarah’ baru. Tikungan pertama adalah keluar dari mitos suci sebagai ‘gerakan moral’-yang selalu diberi makna dan beban idealistik-untuk merujuk pada kenyataan-kenyataan historis yang penuh kontradiksi. Rujukan atas realitas ganda yang kini dihadapi oleh gerakan mahasiswa menuntut gerakan mahasiswa memperkuat jaringan antar gerakan dan antar kampus. Inisiatif yang muncul lewat BEM SI maupun BEM Nusantara hendaknya tidak disekat dalam teritorial yang sempit dan ideologi yang terlampau ringkih. Dari istilahnya saja sudah membawa elitisme dan terkesan birokratis. Diperlukan kekuatan gerakan yang bisa mengambil bentuk Front atau Komite yang berdiri diatas keragaman kampus namun berdiri pada komitmen yang lugas. Komitmen ini bukan muncul melalui krisis atau persoalan yang tumbuh karena propaganda aktif media tapi muncul lewat perantaraan situasi yang konkrit dan dipahami benar korbanya. Sehingga tiap manifestasi perjuangan yang kelihatan tampak sederhana menjadi pembuka bagi perjuangan-perjuangan yang berikutnya. Andre Gorz mengungkapkan dalam bahasa yang jitu

    Orang takkan bisa menang dalam sebuah pertempuran jika kemenangan jangka pendek yang diraihnya tidak membukakan jalan kemenangan bagi keterlibatan yang bersifat total, sementara pihak musuh mempertaruhkan segalanya untuk bisa menang

    Bentuk dan model gerakan yang selama ini perlu mendapat kritik dan evaluasi. Kritik digunakan untuk mempertajam arah gerakan dan evaluasi dimanfaatkan sebagai cara untuk memastikan capaian gerakan. Tikungan yang lain adalah memastikan model hubungan yang berlangsung antara kader senior dan kader yunior. Aroma feodalistik dan korporatik telah membuat gerakan mahasiswa dipasung dalam ruang birokrasi dan tercampakkan dalam perjuangan yang gembira karena kemenangan-kemenangan ‘antara’. Pengkhianatan gerakan diantaranya muncul dalam situasi hubungan yang ‘gelap dan rentan’ ini. Reputasi senior yang memiliki pengalaman, pekerjaan dan jaringan telah membuat angkatan-angkatan di bawahnya perlu ‘mencontoh dan meniru’ apa yang sudah dirintisnya. Tak jarang jalan yang ditempuh ini merupakan cermin ‘ideal’ dan ‘kesuksesan’ yang menjamin mobilitas kelas bagi para angkatan-angkatan muda di bawahnya. Disana terletak ‘ikatan ideologis’ yang rapuh dan mudah disalah-gunakan: terdapat banyak contoh bisa digelar bagaimana gerakan mahasiswa diringkus taktiknya oleh kepentingan-kepentingan pragmatis segelintir elite-nya.
    Dengan kata lain dibutuhkan kerangka relasi yang menempatkan kosakata senior dan yunior tidak pada ‘jenjang organisasi’ tapi ‘kecakapan-pengalaman-pengetahuan’ praksis gerakan itu sendiri. Walau tak gampang menghapus jejak-jejak feodalistik dalam tubuh gerakan tapi terdapat banyak usaha yang kini dikerjakan oleh angkatan baru untuk menyingkirkan peran ‘oportunis’ yang dipraktekkan oleh para seniornya. Pembangkangan dan perlawanan itu walau belum memuncak dalam gelombang pemisahan yang tegas tapi sudah dilakukan dan dikerjakan oleh beberapa kalangan. Sebagian berhasil dan memang lebih banyak yang gagal karena kebutuhan ‘praktis dan logistik’ dalam tubuh gerakan. Jika tikungan ini bisa diterobos maka tugas gerakan pada akhirnya adalah membangun ikatan yang kuat dan solid dengan basis massanya. Kini hal ini dipermudah oleh jaminan kebebasan politik dan terdapatnya banyak ruang-ruang yang ‘kosong’ bagi arena konsolidasi. Lenin dalam bukunya What is to be Done pernah mengilustrasikan koran punya peran penting gerakan, bukan hanya melakukan propaganda dan agitasi melainkan organisator kolektif. Ide ini pada ujungnya mengkristal dalam kerja gerakan yang sesungguhnya: mengamati, menafsirkan, melatih dan menggerakkan kader untuk mencebur dalam perjuangan nyata perubahan. Dalam bahasa Lenin tugas gerakan kemudian:

    …mengerahkan seluruh kekuatan yang ada bukan sekedar untuk menyerang sekarang juga, tetapi juga membangun sebuah organisasi revolusioner yang mampu menyatukan seluruh kekuatan dan mengarahkan pergerakan pada praktek yang sebenarnya….sebuah organisasi yang siap setiap saat bisa mendukung setiap protes dan kebangkitan, serta menggunakan untuk membangun dan mengkonsolidasikan kekuatan tempur yang dibutuhkan bagi perjuangan yang menentukan……

    Pada sisi yang lebih dalam adalah tugas gerakan mahasiswa Islam untuk menghidupkan kembali ‘potensi gerakan’. Potensi ini dituntut untuk menjawab harapan yang hinggap dalam relung banyak masyarakat awam. Relung itu menggema untuk meminta jawaban-jawaban tuntas bagi keberadaan gerakan Islam: pertama apakah gerakan Islam berjuang hanya untuk mencapai masyarakat utopis di masa lalu? Yang mungkin hanya ‘nikmat’ dihadirkan dalam wacana tapi sulit dijangkau dalam realitas? Kedua sejauh mana gerakan Islam itu mampu mengadopsi tata nilai yang kini menjunjung prinsip egaliter, keadilan, otonomi dan pruralitas dalam ruang kesadaran religiusnya? Ketiga seberapa jauh penalaran digunakan untuk memastikan hadirnya ‘perubahan’ dalam format sebuah sistem yang dikepung oleh keberadaan negara dan dikelilingi oleh ekonomi pasar? Disana gerakan muda Islam kini mengalami perseteruan ganda: konfrontasi dengan bahasa simbolik modern yang memiliki maksud dan motif akumulasi sekaligus mengendalikan proses transformasi masyarakat yang kini merayakan konsumerisme dan pemujaan berlebihan terhadap segala hal material. Berpaling dalam perseteruan ini bisa membuat gerakan Islam hanya memuja ‘privatisasi’ yang secara langsung menghancurkan bangunan identitas kewarga-negaraan menjadi sesuatu yang personal dan lebih mendahulukan kepentingan diri sendiri. Penyakit sosial yang dibawa oleh sistem kapital ini telah melumpuhkan gerakan untuk memuja apa yang ‘sementara dan formal’. Rasulullah sendiri ingatkan :

    Akan datang kepada manusia, satu zaman, ketika tuhan-tuhan mereka adalah perut, kiblat mereka seks, agama mereka uang, kemuliaan mereka pada kekayaan. Tidak tersisa dari Islam, kecuali namanya: tak tersisa dari Islam kecuali upacaranya: tak tersisa dari qur’an, kecuali pelajaranya. Masjid-masjid mereka ramai, tapi hati mereka kosong dari petunjuk. Mereka tidak mengenal ulama, kecuali dari pakaian keulamaanya yang bagus. Mereka tidak mengenal Alqur’an, kecuali dari suara bacaanya yang bagus. Mereka duduk rapat di masjid, tetapi zikirnya dan kecintaanya dunia (Kitab Jami’ al-Akbar)

    Berkaca pada situasi sosial semacam itulah maka salah satu perantara untuk membangkitkan perubahan adalah situasi frustasi yang kini secara umum menguasai perasaan kolektif. James C Davies mengingatkan, bahwa revolusi tidak terjadi dalam keadaan kebutuhan ekstrem, melainkan lebih banyak dalam situasi tatkala suatu periode perbaikan dan harapan-harapan meningkat disusul oleh suatu kemunduran jangka pendek, yang dalam prosesnya membawa frustasi-frustasi yang gawat. Keyakinan ini kemudian diringkas oleh Lawrence Stone sebagai: ‘revolusi yang berhasil bukan pekerjaan penderita-penderita kekurangan, juga bukan pihak-pihak yang dalam keadaan sejahtera, tetapi dari pihak-pihak yang keadaanya yang sebenarnya tidak membaik secepat yang mereka harapkan . Lapisan inilah yang menjadi kekuatan gerakan mahasiswa. Jika kepercayaan akan perubahan dan rasionalitas makin aus maka dentum perubahan untuk menemukan fondasi muncul kembali. Harapan lalu perlahan bangkit dan agama dihadirkan untuk menjawab itu semua. Mengapa agama? Pertama agama menghadirkan keyakinan yang optimistik dalam setiap perubahan. Hanya agama yang meyakini bahwa perbuatan baik itu bersangkar dalam diri manusia dan tanggung jawab sosial bersandar pada keyakinan atas kebenaran. Dengan menggali kekuatan optimisme maka gerakan mahasiswa dituntut untuk memiliki kemampuan mengorganisir ‘harapan dan optimisme’ untuk menjadi kekuatan mobilisator. Sayangnya gerakan mahasiswa meletakkan agama sekedar menjadi ‘identitas’ ketimbang ‘kekuatan untuk meraih kebenaran final’. Karena gerakan mahasiswa menanggalkan kekuatan agama yang berikutnya yakni membangkitkan harapan. Harapan itu vital dalam gerakan, lebih disebabkan, potensinya untuk membentuk identitas sekaligus solidaritas. Bahkan harapan mampu memeriksa kembali hubungan-hubungan kontradiktif dalam setiap konflik yang meluap serta kemampuan untuk mengenal identitas dasar sebagai kekuatan pendorong. Sinyal Qur’an mengenai itu lugas dan terang

    Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (QS Muhammad (47):7)
    Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik (QS Yusuf (12):90)

    Maknanya jelas bahwa potensi dasar kekuatan agama bukan hanya menjaring solidaritas dalam konteks basis kelas melainkan ungkapan identitas sesungguhnya dari keberadaan seorang manusia. Dengan landasan itulah maka gerakan mahasiswa Islam dituntut untuk melakukan perlawanan tanding seputar penafsiran kembali “norma-norma, penciptaan makna-makna baru dan suatu ideal tatanan yang berdiri diatas realitas material yang cacat yang selalu berada diatas kerapuhan manusia’. Upaya ini yang dilukiskan dalam diri nabi kita Muhammad (Saw) yang hadir sebagai sosok yang diistilahkan sebagai ‘pengingat’ dan ‘pembangkit’. Dalam bayang harapan itulah kebangkitan gerakan mahasiswa Islam menjadi petanda seru untuk menegakkan apa yang sudah lama layu. Apa yang pantas untuk segera ditegakkan? Tentu skema dan sistem kaderisasi yang lebih terorganisir sehingga mampu mendorong kader-kadernya untuk selalu terikat dan setia dengan nilai-nilai yang dijunjung oleh ideologi gerakan. Kedua yang lebih utama adalah mempertahankan sekaligus mempertaruhkan nilai-nilai dasar gerakan dalam budaya internal maupun eksternal gerakan. Di internal makin terpupuk optimisme untuk memegang teguh keyakinan dan tidak ragu untuk mempropagandakan nilai-nilai itu keluar. Hingga pada ujungnya gerakan ini akan mengalami ‘konflik’ yang tidak selalu berputar pada watak ‘sosio-politis’ tapi lebih kerap pertarungan di lingkup ‘sosio-kultural’. Pada sisi itulah gerakan mahasiswa Islam menemukan pergulatan utuh dan langsung dalam dinamika sosialnya. Tentu ini kilas pandangan yang sederhana dan singkat sehingga memerlukan ‘kesangsian’ dan diskusi yang terus-menerus. Setidaknya saya optimis bahwa gerakan mahasiswa Islam bisa menjadi pengungkit sesuatu yang hilang dari orde gerakan mahasiswa kini. Derita gerakan hari ini hanya menjadi pintu utama perubahan total yang kelak akan diraihnya, persis seperti yang diceritakan Rumi dalam Mastnawi

    Sebelum awan menangis, mana mungkin taman bisa tersenyum
    Sampai bayi menangis, mana mungkin air susu mulai mengalir
    Bayi satu tahun saja tahu, “aku akan menangis, supaya perawat yang baik datang”
    Tidakkah engkau tahu bahwa sang Perawat dari segala perawat tidak akan memberikan susu dengan gratis, tanpa tangisan

    Disampaikan pada diskusi PPSDMS NF Reg . 3 Yogyakarta

    Iklan
     
  • future leader 3:47 AM on 21 July 2010 Permalink | Balas  

    Tolak Dana Aspirasi 

    Oleh Dewa Mahendr, Mahasiswa Fakultas Hukum UGM Yogyakarta

    Dalam sebuah  diskusi rutin kampus, seorang teman bertanya “ Apakah salah kebijakan dana aspirasi ? bukannya bagus kalo setiap daerah di bantu dana 15 Miliar ?“ Jika di lihat kebijakannya, sah sah saja. Tetapi yang menjadi permasalahan kenapa Dana Aspirasi di anggap kurang tepat. Pertama, Penyaluran dana aspirasi atau di sebut dana percepatan dan pemerataan pembangunan daerah pemilihan melalui wakil rakyat dan melalui metode ini rawan sekali akan di selewengkan. Beberapa waktu lalu, DPR dengan percaya dirinya mengeluarkan rencana pembangunan Gedung baru sebesar 1.8 Triliun. Dikarenakan tidak mendapat persetujuan banyak kalangan, DPR ternyata tidak kehabisan akal untuk mencari “jurus” baru yaitu dengan mengeluarkan rencana Dana Aspirasi oleh Golkar.  Sungguh ironis, fungsi legislasi yang dijalankan pun belum dilaksanakan sesuai harapan, malah membuat beban baru yang “aneh”. Kedua, pengatasnamaan rakyat dalam format dana aspirasi tidak mengakomodir sepenuhnya aspirasi rakyat di daerah. Karena dana aspirasi ini disalurkan per dapil, jadi jika dilihat data dapil bahwa pulau jawa merupakan dapil terbanyak dalam parlemen. Jelas sekali implementasi dana aspirasi ini tidak sepenuhnya mensejahterakan rakyat. Kalau tujuan untuk pemerataan maka tidak akan mengakomodir pemerataan di wilayah Indoensia. Karena jika dilihat data propinsi dan kabupaten setiap daerah dan wilayah akan sangat jauh berbeda antara daerah lainnya. Data KPU menunjukkan Provinsi Banten dengan penduduk 8,79 juta dan jumlah kursi DPRD Provinsi 75 buah. DPRD Kabupaten Merauke dengan penduduk sebanyak 160.283 jiwa memiliki DPRD kabupaten sebanyak 25 kursi. Jika dibandingkan dengan Propinsi Jambi, memiliki 2 dapil sedangkan Propinsi Sulawesi Utara memiliki 3 dapil. Jika masing-masing dibagikan dana 15 Miliar per dapil akan sangat tidak merata sekali dan dipastikan kesempatan ini dimanfaatkan oleh anggota DPR untuk mencalonkan kembali dirinya dengan modal dana aspirasi.  Ketiga, kewenangan dana aspirasi sebenarnya bukanlah wilayah DPR, fungsi Budgenting, Controlling dan Legislasi yang seharusnya menjadi fokus utama DPR. Alih alih mempersembahkan prestasi yang terbaik, malah membuat sesuatu yang menjadi tambah bobrok dalam menjalankan tugas parlemen.

    Seharusnya DPR melalui lembaganya yang berfungsi sebagai pengontrol pemerintahan, Pembuat Undang-undang serta membuat anggaran. Tentunya harus mempersembahkan kinerja terbaiknya dahulu untuk bangsa ini. Visi dan misi yang diusung ketika berkampanye haruslah di aplikasikan. Bukan sekedar branding untuk maju sebagai wakil rakyat. Fokus utama kinerja DPR sangat menentukan nasib bangsa ke depan sebab jika para elit penguasa sudah mempergunakan kekuasaannya untuk mempolitisasi uang rakyat atau mengkongkalikongin rakyat maka mau di bawah ke mana bangsa ini ?

    Pemerintah yang arif dan bijaksana serta mengerti permasalahan bangsa sangat di perlukan untuk pembangunan bangsa ke depan, bukan pemerintah yang memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi.

     
  • future leader 7:53 AM on 8 June 2010 Permalink | Balas  

    Aksi Kritis Aspiratif : Manifestasi Politik dan demokrasi 

    Apa sebenarnya Aksi atau demonstrasi? Demonstrasi adalah tindakan untuk menyampaikan penolakan, kritik, ketidakberpihakan, mengajari hal-hal yang dianggap sebuah penyimpangan. Maka dalam hal ini, sebenarnya secara bahasa demonstrasi tidak sesempit, melakukan long-march, berteriak-teriak, membakar ban, aksi teatrikal, merusak pagar, atau tindakan-tindakan yang selama ini melekat pada kata demonstrasi. Seharusnya demonstrasi juga “mendemonstrasikan” apa yang seharusnya dilakukan oleh pihak yang menjadi objek protes. Sedikit bukti, bahwa dalam pengertiannya saja telah muncul, meminjam terminologi Jaya Suprana, kelirumologi. Bagaimana dengan implementasinya?

    (More …)

     
  • future leader 7:48 AM on 8 June 2010 Permalink | Balas  

    Action and continue : Efektivitas Pendidikan Anti Korupsi 

    Dalam UUD 1945 ditegaskan bahwa Negara Indonesia berdasarkan atas hukum ( Rechtstaat ), tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka ( Machstaat ). Hal ini berarti Republik Indonesia merupaka negara hukum yang demokratis berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, menjunjung hak asasi manusia dan menjamin semua warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan  serta wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.

    (More …)

     
  • future leader 4:24 AM on 1 December 2009 Permalink | Balas  

    Kamus Hukum 

    – Asas legalitas ialah suatu asas hukum tidak bisa diberlakukan surut (Nullum delictum sine praevia lege poenali). Dalam pasal 1 ayat 1 KUHPidana berbunyi tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas kekuatan ketentuan pidana menurut UU yang telah ada sebelumnya.

    • Asas retroaktif ialah suatu asas hukum dapat diberlakukan surut. Artinya hukum yang baru dibuat dapat diberlakukan untuk perbuatan pidana yang terjadi pada masa lalu sepanjang hukum tersebut mengatur perbuatan tersebut, misalnya pada pelanggaran HAM berat.
    • Asas Equality before the law ialah suatu asas kesamaan menghendaki adanya keadilan dalam arti setiap orang adalah sama di dalam hukum, setiap orang diperlakukan sama

    Asas Presumption Of Innocence (asas praduga tidak bersalah), bahwa seseorang dianggap tidak bersalah sebelum ada keputusan hakim yang menyatakan bahwa ia bersalah dan keputusan tsb telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap (inkraht)

    (More …)

     
  • future leader 8:22 AM on 26 November 2009 Permalink | Balas  

    Hubungan Antara wawasan Nusantara dengan Ketahanan nasional 

    Hubungan Antara Wawasan Nusantara dengan Ketahanan Nasional

    Wilayah Indonesia yang sebagian besar adalah wilayah perairan mempunyai banyak celah kelemahan yang dapat dimanfaatkan oleh negara lain yang pada akhirnya dapat meruntuhkan bahkan dapat menyebabkan disintegrasi bangsa Indonesia. Indonesia yang memiliki kurang lebih 13.670 pulau memerlukan pengawasan yang cukup ketat. (More …)
     
  • future leader 3:50 AM on 26 November 2009 Permalink | Balas  

    Hari ini Chandra dan Barang Bukti Dilimpahkan ke Kejaksaan 

    Kepolisian hari ini, Kamis (26/11), akan menyerahkan tersangka pimpinan KPK nonaktif Chandra M Hamzah berikut barang bukti percobaan pemerasan dan penyalahgunaan wewenang ke Kejaksaan Agung. Pelimpahan tersangka dan barang bukti itu menyusul berkas perkara yang dinyatakan lengkap oleh Kejakgung.

    (More …)

     
  • future leader 7:57 AM on 24 November 2009 Permalink | Balas  

    HUKUM ADAT INDONESIA

    1.1.PERBEDAAN SISTEM ANGLOSAXON DAN SISTEM EROPA CONTINENTAL Perbedaan system hukum anglo saxon dengan eropa continental. Ada perbedaan yang sangat mendasar antara sistem hukum Continental (Eropa) dan sistem hukun Anglo-Saxon (AS). Pada sistem hukun continental, filosofinya tampak pada sifat-sifatnya yang represif, yang senantiasa cenderung melindungi yang berkuasa. Hal ini bisa dimaklumi karena yang berkuasa (waktu itu) adalah kolonial Belanda yang jelas ingin mempertahankan dan mengokohkan kekuasaannya melalui berbagai undang-undang atau sistem hukumnya. Sedang sistem

    (More …)

     
  • future leader 8:22 AM on 19 November 2009 Permalink | Balas  

    KEWARGANEGARAAN


    Wilayah nasional RI :
    1. Pada zaman penjajahan ( Belanda & Jepang ) : berdasarkan ordonansi laut territor dan lingkungan maritim pada tahun 1939 ( territoriale ZEE maritem kringen ordonantie, th 1939 no.442 ) ukurannya adalah 3 MIil luas wilayah adalah Hindia Belanda

    (More …)

     
  • future leader 7:09 AM on 19 November 2009 Permalink | Balas  

    Assalamualaikum 

    Selamat datang di dewafh.wordpress.com

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal